Laman

Sabtu, 12 November 2011

Aku Blogger, Maka Aku Menulis

Aku suka dengan hal yang baru. Sesuatu yang update, terbaru, seperti website yang selalu menampilkan hal hal yang baru. Berangkat dari situ, kemudian, aku mencoba untuk kembali menulis, menuang sesuatu yang baru. Anggaplah sebuah kegilaan, sebuah upgrading, pikiran baru.

Di blog ini, aku coba untuk melayangkan gagasan yang, bagi saya, tidak akan pernah sampai, tidak pernah selesai. Jua, ia tidak butuh respon. Kubiarkan apresiasi itu datang apa adanya, secercakah dia, tak mengapa. Aku memang kerap menikmati apresiasi apresiasi yang tak sadar acap kali mengangkangiku hingga sulit membuatku bernafas.

Inilah sebuah laku yang aku relakan menjadi terus menerus hingga aku tiada. Sebab aku percaya premis ini: premis mayor: Manusia Itu Mati, premis minor: Aku Manusia. Premis silogisme: Aku Mati. Inilah anteseden yang menjadi konklusi premis ini. Tak tergugat. Proposisi ini kemudian aku balik sekehendakku: Blogger itu menulis, aku Blogger, Aku menulis.

Aku sadar telah melakukannya. Aku tengah mengarunginya. Semacam lautan berekspresi yang terbentang sangat luas. Aku bebas mau mengapakannya semacam apa.

Blog, bagiku, adalah candradimuka yang dihadirkan pegulat dunia siber untuk manusia manusia brilian yang rela bertaruh berjuang memperbaiki posisi, bergerak menuju cita cita tinggi.

Blogger, sesungguhnya, adalah manusia yang gemar berguman dengan kata kata besar dan rajin mengimpikan ruah kehidupan yang sentosa. Seraya tidak lupa menggerakkan otot ototnya dalam dunia realita, ranah implementasi mimpi mimpi. Kerja nyata yang sepenarian dengan aktifitas maya.

Bagiku, hidup nirgagasan adalah mati. Ia kemudian tak lebih bernilai dari bongkah tulang belulang yang tiada arti, tiada makna, tiada manfaat, hanya menghantar aroma bergas yang meracuni. Aku sadar, menulis adalah ragam unik paling ideal menjadi manusia penggagas, pelempar ide.

Blogger adalah penulis. Adalah manusia penggagas. Maka, menulislah. Tulislah apa yang ada di kepalamu. Biarkan orang mengolok oloki gagasanmu. Sambutlah olokan itu dengan suka cita penuh bahagia. Anggaplah itu sebagai sebuah pujian dari yang Maha Tinggi. Tulis saja apa yang ada di kepalamu. Yang ada di hatimu, di sekitarmu. Dan nikmatilah, suatu saat kau akan merasakan klimaksnya.

0 komentar:

Posting Komentar