Laman

Jumat, 11 November 2011

Percakapan Tentang Kemanusiaan Kita

TULISAN adalah perihal yang selalu menggetarkan, menggoyang, menggoda, merangsang, menindih, menyobek, menusuk, memecah, dan kadang harus melebar. Tapi ia tetap selalu menyenangkan karena ia tentang diri kita. Tentang kemanusiaan kita. Tulisan adalah tentang sesuatu yang dinamis, selalu terkembang dalam setiap tradisi umat manusia, adalah ekstasi, membuat hidup kita semakin bergairah. Tapi jangan nafikkan ia rentan membuat pragmatis.

Setiap coretan itu selalu menelurkan kegirangan kegirangan. Sementara itu percakapan tidak akan pernah selesai. Dengan lisan, dengan tulisan, anggukan, barangkali juga dengan lamunan. Buku memang tidak pernah menyakinkan sejarah. Buku, di mana percakapan bekembang, “Memang punya sampul penutup, tapi buku yang sempurna tidak akan pernah selesai ditulis,” kata Goenawan Mohamad.

Tulisan akan terus mendesak, memerikan ihwal tentang yang ada. Dari sana komunikasi kemudian terbentuk menjadi tumpukan tumpukan rasa, ide ide, percakapan yang selalu bergulir, juga paksaan, penunjuk jalan, dan ia sejatinya adalah prasangka prasangka manusia. Begitu bernilai. Tulisan memang tak pernah menindas. Ia hanyalah sebangsa bisik bisik yang tak selamanya butuh timpalan. Tapi ia ada.

Namun kita tetaplah manusia yang kadang harus peduli arti ketermenungan asa orang orang yang ada di seberang sana. Yang menampakkan pandangan pandangan kegetiran, kadang ketakjuban yang memendam memasukng diri dalam kalimat kalimat, tapi ia akan selalu bergerak tanpa kengerian. Sehingga itulah mengapa tulisan selalu dinamis, komunikasi terbangun, dan perbincangan pun meluas.

Jurnalisme bukan semantik yang menipu, atau tersebutlah ia sebagai bentuk alkoholisme ratapan yang sarat igau dan tendensi tendensi. Namun ia adalah catatan catatan yang terangkai dengan validity, keterusterangan, lurus hati, tidak sombong, tidak curang, kelurusan, ketulusan, juga kabar yang mengenakkan.

Jurnalisme sejatinya adalah mengabarkan kebenaran, mengaku dengan terus terang. Dan kita berada di dalamnya. Kita mengarunginya tak terkecuali, sebab kita semua adalah percakapan yang tak selesai. Tak akan selesai.

0 komentar:

Posting Komentar