Laman

Senin, 14 November 2011

Dogmatisme, Racun yang Memuakkan

Idealisme. Dia tidak bersenyawa dengan kemanusiaan kita. Tak bersepunggungan dengan asasi kebutuhan bawaan kita sedikit pun sebagai manusia. Kebutuhan manusiawi kita adalah hak, jangan bertentang dan bersikap oposan. Kebodohan terbesar adalah tunduk pada dogma. Kepatuhan pada dogma adalah kecelakaan.

Substansi dogma dilingkupi kemunafikan. Dia berbeda dengan kebenaran, meski kemudian ada yang menyebut kebenaran hanya sekedar lompatan kebetulan demi kebetulan lalu mencuatlah klaim. Dogmatisme, tak ayal lagi, adalah racun dunia yang memuakkan. Ia sarat kepentingan-kepentingan. Dilakukan oleh pemegang kendali ritusme sebuah laku yang kerap terlembaga, dan kemudian diam-diam masuk dalam ranah keberagamaan kita.

Mereka meneriakkan hebatnya kepatuhan, ketundukan, dan bekerja untuk sesuatu yang mereka sebut sebagai “pilihan perjuangan nan suci”, tapi secara bagus sekali menghantar diri dalam diam ekstase, terasa nikmat, menuju malam.

Inilah hidup tanpa protes. Dan, semua ini adalah babu. Firman Tuhan yang suci diplesetkan demi kepentingan dan keinginan. Sementara dia kenyang dan semacam berahinya terpuaskan. Tindih menindih.

Ah, sudahlah. Aku merindukan kesunyian. Jauh dari hiruk pikuk demikian itu.

0 komentar:

Posting Komentar